Iran, melalui Kepala Garda Revolusi, bersumpah balas dendam atas serangan di Kuhestak yang menewaskan empat orang, termasuk seorang anak, dan menuding AS sebagai pelaku. AS melalui CENTCOM membantah tuduhan tersebut dan menegaskan operasinya sesuai hukum perang.
Kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, bersumpah akan membalas tewasnya empat warga sipil dalam serangan terhadap sebuah pesta pernikahan di Kuhestak, Iran, pada Selasa, 1 September 2026. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah pada Sabtu, 5 September 2026, Vahidi menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan akan memberikan respons setimpal atas pelanggaran kedaulatan yang ditudingkan kepada Amerika Serikat.
Tuduhan dan Bantahan
Pemerintah Iran langsung menuding AS berada di balik serangan yang menewaskan seorang anak dan melukai 68 orang tersebut. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah keras tuduhan itu, menyatakan bahwa militernya tidak pernah menargetkan warga sipil dan setiap operasi selalu sesuai dengan hukum perang. CENTCOM juga menegaskan komitmennya terhadap perlindungan warga sipil.
Serangan di Kuhestak ini memicu ketegangan baru antara Teheran dan Washington di tengah situasi regional yang sudah rapuh. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen mengenai pihak yang bertanggung jawab, namun Iran dan AS kini saling tuduh, meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut di kawasan.